PENGENALAN MUSUH ALAMI/ PREDATOR

A. ACARA VII : PENGENALAN MUSUH ALAMI/ PREDATOR

B. TUJUAN : Mengenal predator serangga

C. TEMPAT DAN TANGGAL: Lab. Ilmu Hama, 10 Desember 2011

D. ALAT DAN BAHAN :

Alat :

Ø Jala serangga

Ø Stoples

Ø Botol

Bahan :

Ø Predator capung (Odonata aeshnidae) sebanyak 6 ekor

Ø Serangga / hama lutu loncat (Heterosphylla cubana) sebanyak 60 ekor

Ø Lalat rumah (Musca domestica) sebanyak 15 ekor

E. DASAR TEORI

Serangga merupakan kelompok hama paling berat yang menyebabkan kerusakan hutan. Hama tanaman hutan pada umumnya baru menimbulkan kerugian bila berada pada tingkat populasi yang tinggi. Perkembangan populasi hama hingga mencapai tingkat yang tinggi ditentukan oleh potensi reproduksi, kemampuan mempertahankan diri (sintas), dan daya tahannya terhadap kondisi lingkungan hidupnya.

Serangga hama mempunyai musuh alami yang memakan serangga hama disebut predator. Sedangkan serangga hama yang dimangsa disebut pre. Predator serangga hama tidak hanya pada phylum arthropoda saja seperti belalang sembah, laba-laba, capung. Namun juga dari jenis burung, dan hewan pemakan serangga lainnya.

Kehadiran predator ini sangat menguntungkan bagi manusia, karena dapat mengendalikan jumlah serangga hama dihutan.Manusia sering mengembangbiakan berbagai jenis predator serangga hama dan melepaskannya di hutan sebai upaya pengendalian hutan.

Pengendalian serangga hama hutan sendiri bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan yang terjadi pada tanaman hutan atau hasil hutan. Tujuan pengendalian dapat dicapai melalui pengaturan populasi serangga hama pada umumnya menggunakan pendekatan teknik silvikultur. Kerusakan hutan dapat terjadi oleh adanya aktivitas berbagai serangga yang hidup didalamnya dengan memanfaatkan tanaman hutan sebagai tempat berkembang dan sumber makanan.

Cara lain untuk pengendalian hama adalah dengan cara menginfeksikan penyakit pada hama betina atau jantan dan melepaskan serangga hama yang telah terinfeksi tersebut ke dalam hutan agar menularkan serangga-serangga yang lain. Biasanya pada serangga betina zat yang dimanfaatkan adalah (feromon) yang dihasilkan serangga. (Feromon) merupakan substansi kimia yang diskskresikan ke dalam suatu lingkungan oleh suatu individu yang mempengaruhi perilaku individu yang lain pada spesies yang sama. Feromon seksual biasanya diproduksi dalam glandula khusus oleh satu jenis kelamin suatu spesies dan dipancarkan untuk mendatangkan respon perilaku dari jenis kelamin yang berlawanan untuk tujuan-tujuan kawin. Feromon seksual yang diproduksi betina bertindak sebagai penarik sek dan yang diproduksi oleh jantan sebagai perangsang sek. Betina yang memancarkan feromon seksual adalah spesies (Coleoptera dan Lepidoptera). Pelepasan feromon seksual melibatkan pematangan seksual dan umur betina yang perawan, waktu dari hari periode kawin, periode penyinaran, suhu, kecepatan angin, dan intensitas cahaya.

Daya reproduksi adalah kemampuan serangga untuk berkembang biak pada waktu tertentu pada kondisi lingkungan yang optimum.

Keperidian adalah kemampuan individu betina untuk menghasilkan sejumlah telur. (Sex-ratio) adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara jenis yang jantan dan betina dalam suatu populasi.

Daya survival adalah kemampuan serangga untuk bertahan hidup dalam lingkungannya yang dipengaruhi oleh daya persepsi dan mobilitas, daya disperse, serta daya kompensasi dan daya adaptasi.

F. CARA KERJA

1. Menangkap capung dan lalat rumah dengan jala serangga.

2. Menyiapkan 6 (enam) buah stoples. 3 (tiga) stoples dimasukkan capung serta kutu loncat, dan 3 ( tiga lagi) dimasukkan capung dan semut.

3. Mengamati dan menghitung jumlah lalat rumah dan kutu loncat yang dimakan oleh capung.

4. Mengamati dan mencatat cara capung dalam memakan lalat dan kutu loncat.

5. Membuat analisa berdasarkan data pengamatan yang telah diperoleh.

G. HASIL PENGAMATAN

1. Jenis tanaman : Gliricide (Gliricidae sepium)

Hama : Kutu loncat

Predator : Kumbang

2. Jenis tanaman : Lamtoro ( Leuchaena leucocepalla )

Hama : Lalat dan kutu loncat

Predator : Capung dan belalang sembah

3. Jenis tanaman : Ketapang ( Terminalia cattapa )

Hama : Ulat daun

Predator : Belalang sembah dan kumbang

4. Jenis tanaman : Sengon ( Paraserianthes falcataria )

Hama : Kutu bubuk

Predator : Semut merah

5. Jenis tanaman : Murbei ( Morrus sp.)

Hama : Kutu bubuk

Predator : Semut hitam

H. PEMBAHASAN

Pada dasarnya jasad hidup dipelajari dalam unit populasi. Populasi dapat diartikan sebagai kumpulan individu suatu spesies organisme yang sama, hidup dalam suatu tempat tertentu. Batasan populasi ditentukan berdasarkan pengaruh satu individu terhadap individu yang lain dalam populasi tersebut. Jadi populasi dipandang sebagai suatu system yang dinamis dari semua individu yang saling berhubungan. ( Subyanto,2000).

Kebanyakan serangga adalah secara relative kecil. Ukuran serangga berkisar dari kira-kira 0,25 – 3,30 mm panjang, dan kira- kira 0,5 – 3,0 mm dalam bentangan sayap. Dengan sayap serangga mampu meninggalkan suatu habitat jika habitat itu tidak cocok. Kisaran warna serangga dari yang sangat tidak menarik sampai sangat cemerlang, tidak ada hewan lainnya yang lebih cemerlang melainkan serangga. Beberapa serangga berwarna kemilau dan berwarna-warni seperti permata yang hidup ( Sumardi,2004 ).

Pada pengamatan yang kami lakukan di arboretum kami mendapati pada tanaman Jenis tanaman Gliricide (Gliricidae sepium) terdapat hama kutu loncat dan kumbang sebagai predatornya. Pada tanaman lamtoro ( Leucena leucaceplla ) terdapat hama lalat dan kutu loncat, predatornya capung dan belalang sembah. Pada tanaman: ketapang ( Terminalia cattapa ) terdapat hama ulat daun sedangkan predatornya belalang sembah dan kumbang. Jenis tanaman Sengon ( Paraserianthes falcataria ) terdapat hama kutu bubuk dan predatornya semut merah. Dan jenis tanaman Murbei ( Morrus sp.) terdapat hama kutu bubuk dan predatornya semut hitam.

Pada dasarnya adanya hama dan predator di dalam habitat tertentu dengan interaksinya satu sama lain akan membentuk suatu system yang disebut ekosistem. Ekosistem di alam sangat bervariasi yang bergantung kepada subjeknya. Ekosistem dalam lingkungan pertanian / perkebunan / kehutanan disebut agroekosistem. Agroekosistem ini mempunyai kestabilan yang rendah atau relative kurang dibandingkan dengan ekosistem yang masih murni atau alami seperti hutan alam. Kestabilan agroekosistem ini disebabkan oleh beberapa factor baik factor biotis dan abiotis. Salah satu penyebab ketidakstabilan ini adalah akibat pertumbuhan populasi serangga yang bertindak sebagai hama adalah cepat. Kumpulan populasi membentuk suatu komunitas. Dengan memperhatikan keragaman dalam suatu komunitas dapat diperoleh tentang kemapanan organisasi komunitas tersebut. Biasanya suatu komunitas semakin beraneka ragam, maka organisasi dalam komunitas tersebut akan semakin kompleks sehingga kemapanan akan menjadi lebih mantap.

Status hama dianggap penting apabila pertumbuhan populasinya cepat dan umumnya serangga hama bersifat demikian. Populasi serangga hama bersifat fluktuatif, artinya pada suatu waktu kepadatan populasi serangga hama tinggi sedangkan di waktu yang lain kepadatan populasinya rendah. Aktivitas maupun pertumbuhan populasi serangga tersebut dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu daya biotic dan resistensi lingkungan.

H. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Predator merupakan organisme yang memangsa serangga hama.
  2. Pre merupakan serangga hama yang dimakan oleh predator.
  3. Kestabilan agroekosistem ini disebabkan oleh beberapa factor baik factor biotis dan abiotis.
  4. Tindakan perlindungan hutan dapat dilakukan dengan cara memberantas serangga hama dengan memanfaatkan predatornya.
  5. Adapun jenis tanaman yang diamati adalah jenis tanaman sengon, murbei, lamtoro, ketapang, dan gliricide.
  6. Hama tanaman berupa lalat, capung, kutu loncat, ulat daun, kutu bubuk.
  7. Predator pada acara ini adalah capung, belalang sembah, kumbang, semut merah, dan semut hitam.

DAFTAR PUSTAKA

D.J.Borror,1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumardi dan S.M. Widyastuti,2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumyadi,2000. Buku Ajar Ilmu Hama Hutan. Fakultas kehutanan. UGM. Yogyakarta.

Widyastuti dan Sumardi,1999. Assessment of pest and disease status of early growth of shorea spp. Buletin Kehutanan, Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Mudah Penasaran!!! Cihahayyyy...!!!!!!
Copyright © 2010 Love Story And My Study All Rights Reserved.
Website powered by Blogger and Trily Blogger theme designed by TopTut.com & Converted by Ritesh Sanap.

Blog Archive

Followers

silakan meninggalkan pesan ^_^

Ada kesalahan di dalam gadget ini

bantu di klik sob..... :D