Jernih Dan suci

Jernih Dan suci

sepi malam, hening tiada curahan teman,

bintang tak bersuara walau indah diatas sana,

jauh ku gapai tangan lemah seakan tak bertulang,

se isi perasaan di hati seakan tak bernyawa,

namun selalu ku coba untuk meraih pundi-pundi kehidupan,


terkadang hati ini berkata pada embun yg lembut menghelus kulit yg tak berdarah dan tak bisa menjawab,

mati aku hanya menyisakan luka dan tangis saja,

hidup aku hanya memberi beban dan kekecewaan..

ku pilih gila yang sesungguh nya namun ku tak bisa... karena masih ada harapan yang selalu menunggu dan mendoaakanku untuk setetes air yang jernih suci yang tergantung di langit

cerpen

Aku Bersaksi Iya Ada

Di sini lagi aku melangkahkan kakiku dan aku bersyukur akan karena itu sebab aku masih bisa melihat mereka dan mereka bisa melihatku,

Menentukan Keluar masuk Lorong hitam dan putih itu aku karena aku sendirilah yang memegang kunci kendali kehidupanku,

Memang aku tidak pernah menyaksikanya dan merabanya dengan tangan dan kakiku yang lemah ini selayaknya nyata ada kelihatan namun menyesatkan aku untuk megenal sesuatu yang masih banyak pertanyaan bagi mereka bukan aku,

Namun aku yakin Iya Ada karena aku menyaksikanya dengan mata dan telingaku di saat aku mau membuka pikiranku untuk itu….

Memang Aku tidak Pernah ke Afrika atau Negeri Luar yang jauh di sana, tapi aku yakin afrika itu ada karena aku melihatnya di peta, televisi dan berita yang aku dengarkan sehingga isi di dalamnya pun aku mengerti karena aku mau membuka pikiranku.

Sama halnya dengan apa yang ku yakini saat ini dan inilah menjadi pedoman hidupku dan inilah kesaksianku

Kata Kunci:

tiang kehidupanku

untuk matiku

abadiku kelak nanti

CERPEN

TIGA UNSUR CERMIN

Sudahkah aku membuat mereka bahagia dengan apa yang aku dapatkan saat ini dan aku sendiri berkata pada kaca yang sedikit berdebu di mana setiap saat tanganku bisa membersihkannya namun hatiku berkata hem…nanti saja….

Dapatkah aku menjawabnya sendiri tanpa harus bertanya kepada orang yang selalu memperhatikan diriku dalam setiap gerak gerik langkah ku dan aku tidak perlu itu…

Aku sendiri pun tidak tau siapa aku yang pasti aku terlahir dan tumbuh besar dari kasih sayang ke dua orang tua ku……

Aku hanya berusaha untuk menjadi lebih baik dari pada yang terbaik yang pernah aku lalui selama hidupku….

Prinsip hidup dan kekuatan Promise membuatku bisa meninggalkan apa yang di katakan orang itu tidak bisa dan bukanlah omong kosong belaka….. ini aku bukanlah cermin yang mudah retak… nggak perlu sama ingin seperti diriku… ikuti saja naluri kehidupanmu yang positif wae….. kamu hanya bisa melihatku dan tidak tau bagaimana perasaanku… tanda Tanya besar bagimu… bila kamu ingin tau, kau bisa tau jawabanya bila kamu mempunyai Prinsip hidup dan kekuatan Promise…

Kata Kunci:

belajarlah…

kenalilah…

dan rasakanlah….

Hama Dan Penyakit Hutan

*Penyakit tanaman hutan*

-Pengertian penyakit tanaman

Terjadinya penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan fisiologi seperti biasanya.

-Faktor Penyebab penyakit Tanaman

faktor penyebab penyakit tanaman dapat di bagi menjadi 2 bagian yaitu :
a.faktor biotik : jamur, virus, bakteri, nematoda, tanaman yang bersifat parasit.
Dan di sebut juga penyakit menular ( infectious disease)

b.Faktor Abiotik : suhu yang extrem, kekurangan/kelebihan air, kekurangan unsur hara.
Dan disebut penyakit (non infectious disease)

*Patogen*

Patogen ialah organisme hidup (biotik) yang menyebabkan terjadinya penyakit

Patogen terdiri atas
1. jamur
2. virus
3. bakteri
4. nematoda
5. tanaman yang bersifat parasit

patogen dapat bersifat parasit maupun saprofit

PENGENALAN MUSUH ALAMI/ PREDATOR

A. ACARA VII : PENGENALAN MUSUH ALAMI/ PREDATOR

B. TUJUAN : Mengenal predator serangga

C. TEMPAT DAN TANGGAL: Lab. Ilmu Hama, 10 Desember 2011

D. ALAT DAN BAHAN :

Alat :

Ø Jala serangga

Ø Stoples

Ø Botol

Bahan :

Ø Predator capung (Odonata aeshnidae) sebanyak 6 ekor

Ø Serangga / hama lutu loncat (Heterosphylla cubana) sebanyak 60 ekor

Ø Lalat rumah (Musca domestica) sebanyak 15 ekor

E. DASAR TEORI

Serangga merupakan kelompok hama paling berat yang menyebabkan kerusakan hutan. Hama tanaman hutan pada umumnya baru menimbulkan kerugian bila berada pada tingkat populasi yang tinggi. Perkembangan populasi hama hingga mencapai tingkat yang tinggi ditentukan oleh potensi reproduksi, kemampuan mempertahankan diri (sintas), dan daya tahannya terhadap kondisi lingkungan hidupnya.

Serangga hama mempunyai musuh alami yang memakan serangga hama disebut predator. Sedangkan serangga hama yang dimangsa disebut pre. Predator serangga hama tidak hanya pada phylum arthropoda saja seperti belalang sembah, laba-laba, capung. Namun juga dari jenis burung, dan hewan pemakan serangga lainnya.

Kehadiran predator ini sangat menguntungkan bagi manusia, karena dapat mengendalikan jumlah serangga hama dihutan.Manusia sering mengembangbiakan berbagai jenis predator serangga hama dan melepaskannya di hutan sebai upaya pengendalian hutan.

Pengendalian serangga hama hutan sendiri bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan yang terjadi pada tanaman hutan atau hasil hutan. Tujuan pengendalian dapat dicapai melalui pengaturan populasi serangga hama pada umumnya menggunakan pendekatan teknik silvikultur. Kerusakan hutan dapat terjadi oleh adanya aktivitas berbagai serangga yang hidup didalamnya dengan memanfaatkan tanaman hutan sebagai tempat berkembang dan sumber makanan.

Cara lain untuk pengendalian hama adalah dengan cara menginfeksikan penyakit pada hama betina atau jantan dan melepaskan serangga hama yang telah terinfeksi tersebut ke dalam hutan agar menularkan serangga-serangga yang lain. Biasanya pada serangga betina zat yang dimanfaatkan adalah (feromon) yang dihasilkan serangga. (Feromon) merupakan substansi kimia yang diskskresikan ke dalam suatu lingkungan oleh suatu individu yang mempengaruhi perilaku individu yang lain pada spesies yang sama. Feromon seksual biasanya diproduksi dalam glandula khusus oleh satu jenis kelamin suatu spesies dan dipancarkan untuk mendatangkan respon perilaku dari jenis kelamin yang berlawanan untuk tujuan-tujuan kawin. Feromon seksual yang diproduksi betina bertindak sebagai penarik sek dan yang diproduksi oleh jantan sebagai perangsang sek. Betina yang memancarkan feromon seksual adalah spesies (Coleoptera dan Lepidoptera). Pelepasan feromon seksual melibatkan pematangan seksual dan umur betina yang perawan, waktu dari hari periode kawin, periode penyinaran, suhu, kecepatan angin, dan intensitas cahaya.

Daya reproduksi adalah kemampuan serangga untuk berkembang biak pada waktu tertentu pada kondisi lingkungan yang optimum.

Keperidian adalah kemampuan individu betina untuk menghasilkan sejumlah telur. (Sex-ratio) adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara jenis yang jantan dan betina dalam suatu populasi.

Daya survival adalah kemampuan serangga untuk bertahan hidup dalam lingkungannya yang dipengaruhi oleh daya persepsi dan mobilitas, daya disperse, serta daya kompensasi dan daya adaptasi.

F. CARA KERJA

1. Menangkap capung dan lalat rumah dengan jala serangga.

2. Menyiapkan 6 (enam) buah stoples. 3 (tiga) stoples dimasukkan capung serta kutu loncat, dan 3 ( tiga lagi) dimasukkan capung dan semut.

3. Mengamati dan menghitung jumlah lalat rumah dan kutu loncat yang dimakan oleh capung.

4. Mengamati dan mencatat cara capung dalam memakan lalat dan kutu loncat.

5. Membuat analisa berdasarkan data pengamatan yang telah diperoleh.

G. HASIL PENGAMATAN

1. Jenis tanaman : Gliricide (Gliricidae sepium)

Hama : Kutu loncat

Predator : Kumbang

2. Jenis tanaman : Lamtoro ( Leuchaena leucocepalla )

Hama : Lalat dan kutu loncat

Predator : Capung dan belalang sembah

3. Jenis tanaman : Ketapang ( Terminalia cattapa )

Hama : Ulat daun

Predator : Belalang sembah dan kumbang

4. Jenis tanaman : Sengon ( Paraserianthes falcataria )

Hama : Kutu bubuk

Predator : Semut merah

5. Jenis tanaman : Murbei ( Morrus sp.)

Hama : Kutu bubuk

Predator : Semut hitam

H. PEMBAHASAN

Pada dasarnya jasad hidup dipelajari dalam unit populasi. Populasi dapat diartikan sebagai kumpulan individu suatu spesies organisme yang sama, hidup dalam suatu tempat tertentu. Batasan populasi ditentukan berdasarkan pengaruh satu individu terhadap individu yang lain dalam populasi tersebut. Jadi populasi dipandang sebagai suatu system yang dinamis dari semua individu yang saling berhubungan. ( Subyanto,2000).

Kebanyakan serangga adalah secara relative kecil. Ukuran serangga berkisar dari kira-kira 0,25 – 3,30 mm panjang, dan kira- kira 0,5 – 3,0 mm dalam bentangan sayap. Dengan sayap serangga mampu meninggalkan suatu habitat jika habitat itu tidak cocok. Kisaran warna serangga dari yang sangat tidak menarik sampai sangat cemerlang, tidak ada hewan lainnya yang lebih cemerlang melainkan serangga. Beberapa serangga berwarna kemilau dan berwarna-warni seperti permata yang hidup ( Sumardi,2004 ).

Pada pengamatan yang kami lakukan di arboretum kami mendapati pada tanaman Jenis tanaman Gliricide (Gliricidae sepium) terdapat hama kutu loncat dan kumbang sebagai predatornya. Pada tanaman lamtoro ( Leucena leucaceplla ) terdapat hama lalat dan kutu loncat, predatornya capung dan belalang sembah. Pada tanaman: ketapang ( Terminalia cattapa ) terdapat hama ulat daun sedangkan predatornya belalang sembah dan kumbang. Jenis tanaman Sengon ( Paraserianthes falcataria ) terdapat hama kutu bubuk dan predatornya semut merah. Dan jenis tanaman Murbei ( Morrus sp.) terdapat hama kutu bubuk dan predatornya semut hitam.

Pada dasarnya adanya hama dan predator di dalam habitat tertentu dengan interaksinya satu sama lain akan membentuk suatu system yang disebut ekosistem. Ekosistem di alam sangat bervariasi yang bergantung kepada subjeknya. Ekosistem dalam lingkungan pertanian / perkebunan / kehutanan disebut agroekosistem. Agroekosistem ini mempunyai kestabilan yang rendah atau relative kurang dibandingkan dengan ekosistem yang masih murni atau alami seperti hutan alam. Kestabilan agroekosistem ini disebabkan oleh beberapa factor baik factor biotis dan abiotis. Salah satu penyebab ketidakstabilan ini adalah akibat pertumbuhan populasi serangga yang bertindak sebagai hama adalah cepat. Kumpulan populasi membentuk suatu komunitas. Dengan memperhatikan keragaman dalam suatu komunitas dapat diperoleh tentang kemapanan organisasi komunitas tersebut. Biasanya suatu komunitas semakin beraneka ragam, maka organisasi dalam komunitas tersebut akan semakin kompleks sehingga kemapanan akan menjadi lebih mantap.

Status hama dianggap penting apabila pertumbuhan populasinya cepat dan umumnya serangga hama bersifat demikian. Populasi serangga hama bersifat fluktuatif, artinya pada suatu waktu kepadatan populasi serangga hama tinggi sedangkan di waktu yang lain kepadatan populasinya rendah. Aktivitas maupun pertumbuhan populasi serangga tersebut dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu daya biotic dan resistensi lingkungan.

H. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Predator merupakan organisme yang memangsa serangga hama.
  2. Pre merupakan serangga hama yang dimakan oleh predator.
  3. Kestabilan agroekosistem ini disebabkan oleh beberapa factor baik factor biotis dan abiotis.
  4. Tindakan perlindungan hutan dapat dilakukan dengan cara memberantas serangga hama dengan memanfaatkan predatornya.
  5. Adapun jenis tanaman yang diamati adalah jenis tanaman sengon, murbei, lamtoro, ketapang, dan gliricide.
  6. Hama tanaman berupa lalat, capung, kutu loncat, ulat daun, kutu bubuk.
  7. Predator pada acara ini adalah capung, belalang sembah, kumbang, semut merah, dan semut hitam.

DAFTAR PUSTAKA

D.J.Borror,1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumardi dan S.M. Widyastuti,2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumyadi,2000. Buku Ajar Ilmu Hama Hutan. Fakultas kehutanan. UGM. Yogyakarta.

Widyastuti dan Sumardi,1999. Assessment of pest and disease status of early growth of shorea spp. Buletin Kehutanan, Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.

ASPEK BIOLOGI SERANGGA HAMA (PERILAKU SERANGGA)

A. ACARA VI : ASPEK BIOLOGI SERANGGA HAMA

(PERILAKU SERANGGA)

B. TUJUAN : Mempelajari perilaku serangga dalam hubungannya dengan cahaya dan suhu

C. TEMPAT DAN TANGGAL: Lab. Ilmu Hama, 10 Desember 2010

D. ALAT DAN BAHAN:

1. Alat

Ø Tanung gelas

Ø Botol gelas

Ø Kertas karbon

2. Bahan

Ø Imago lalat rumah (Drosophylle melanogaster Mugen)

Ø Air es

E. DASAR TEORI

Serangga merupakan kelompok hama paling berat yang menyebabkan kerusakan hutan. Hama tanaman hutan pada umumnya baru menimbulkan kerugian bila berada pada tingkat populasi yang tinggi. Perkembangan populasi hama hingga mencapai tingkat yang tinggi ditentukan oleh potensi reproduksi, kemampuan mempertahankan diri (sintas), dan daya tahannya terhadap kondisi lingkungan hidupnya.

Faktor fisik yang penting dalam mempengaruhi kehidupan serangga adalah suhu, cahaya / sinar, hujan, kelembaban dan angin. Faktor – faktor fisik tersebut bersama – sama menentukan suatu keadaan cuaca (dalam jangka waktu yang pendek) atau iklim (dalam jangka waktu yang panjang). Faktor fisik tertentu pada keadaan tertentu dapat menyebabkan kematian serangga atau dapat pula menyebabkan timbulnya epidemi suatu serangga.

Suhu merupakan faktor lingkungan yang menentukan / mengatur aktivitas hidup serangga. Pengaruh ini jelas terlihat pada proses fisiologi serangga, yaitu bertindak sebagai faktor pembatas kemampuan hidup serangga. Pada suatu suhu tertentu aktivitas hidup serangga tinggi (sangat aktif), sedangkan pada suhu yang lain aktifitas hidup serangga rendah (kurang aktif).

Reaksi serangga terhadap cahaya tidak begitu berbeda dengan reaksinnya terhadap suhu. Sering sukar untuk menentukan apakah pengaruh yang terjadi terhadap serangga itu disebabkan oleh faktor cahaya atau faktor suhu , karena kedua faktor tersebut biasanya sangat erat hubungannya dan bekerja secara sinkron.

Beberapa kegiatan serangga dipengaruhi oleh responnya terhadap cahaya, sehingga timbul sejenis serangga yang aktif pada pagi, siang, sore dan malam hari. Cahaya matahari ini mempengaruhi aktivitas dan distribusi lokalnya. Dijumpai serangga yang aktif pada saat ada cahaya matahari, sebaliknya ada juga serangga – serangga yang aktivitasnya terjadi pada keadaan gelap.

F . CARA KERJA

1. Menyiapkan 6 buah stoples, masing – masing untuk :

1 untuk kontrol.

1 untuk pendinginan.

4 untuk disinari lampu : masing – masing 100 W, 50 W, 10 W, dan 5 Wat.

Jumlah Jangkrik 4 ekor untuk masing – masing stoples

2. Memasukkan Jangkrik ke dalam masing – masing stoples.

3. Mengamati dan menghitung jumlah Jangkrik yang mati pada masing – masing perlakuan.

4. Membuat analisa dari data yang telah diperoleh.

G. HASIL PENGAMATAN

Tabel. Hasil Pengamatan

Perlakuan

Jangkrik

100 W

6

50 W

3

10 W

2

Pendinginan

6

Kontrol

0

H. PEMBAHASAN

Faktor fisik yang penting dalam mempengaruhi kehidupan serangga adalah suhu, cahaya / sinar, hujan, kelembaban dan angin. Faktor – faktor fisik tersebut bersama – sama menentukan suatu keadaan cuaca (dalam jangka waktu yang pendek) atau iklim (dalam jangka waktu yang panjang). Faktor fisik tertentu pada keadaan tertentu dapat menyebabkan kematian serangga atau dapat pula menyebabkan timbulnya (Endemic) suatu serangga.

Pada praktikum acara 5 ini ada 2 faktor fisik yang akan kita bahas berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perilaku dan kehidupan serangga. Dua faktor tersebut yaitu suhu dan sinar / cahaya. Pengaruh suhu terhadap kehidupan serangga terlihat pada proses fisiologi serangga, yaitu bertindak sebagai faktor pembatas kemampuan hidup serangga. Ada tujuh batas daerah suhu (Zona) yang membatasi aktivitas kehidupan serangga. Empat zona tersebut meliputi : zona batas fatal atas, zona dorman atas, zona efektif atas, zona optimum, zona efektif bawah, zona dorman bawah dan zona fatal bawah (Subyanto. 2000).

Ada 2 zona yang menyebabkan serangga mengalami kematian yaitu zona batas fatal atas dan zona fatal bawah. Pada zona fatal bawah, dengan suhu > 48OC serangga mengalami kematian. Sedangkan pada zona fatal bawah dengan suhu ± 4OC serangga mengalami kematian (Tjahjadi, N.1989).

Untuk mengetahui pengaruh cahaya dan suhu terhadap aktivitas serangga hama maka kami gunakan lalat rumah sebagai sampel pengamatan. Ada enam stoples yang kami gunakan dimana untuk masing – masing stoples berisi 6 ekor lalat. Stoples – stoples tersebut mendapat perlakukan masing – masing yaitu : disinari lampu (empat stoples), pendingin yang berisi es dan kontrol masing – masing satu stoples. Untuk perlakuan disinari lampu, ada empat lampu yang kami gunakan yaitu lampu 100 W, 50 W dan 10 W..

Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami, dari enam buah stoples tersebut, hanya dua stoples dimana lalat semuanya mengalami kematian. Stoples tersebut yaitu stoples dengan perlakuan disinari lampu 100 W dan stoples dengan perlakuan pendingin yang berisi es. Untuk stoples dengan disinari lampu 100 W, hal yang menyebabkan Jangkrik tersebut semuanya mati, karena Jangkrik tidak dapat beraktivitas dengan keadaan cahaya yang terlalu terang yang otomatis mempengaruhi suhu didalam stoples tersebut. Dengan cahaya yang terlalu terang otomatis suhu disekitarnya bertambah tinggi, ditambah lagi dengan keadaan dalam stoples yang tidak ada sumber makanan, sehingga Jangkrik tersebut tidak dapat bertahan hidup dan akhirnya mati. Hal yang sama juga terjadi pada stoples dengan perlakuan pendingin yang berisi es. Dimana dengan keadaan suhu sekitar stoples yang terlalu rendah ditambah lagi dengan tidak adanya sumber makanan disekitar stoples tersebut menyebabkan Jangkrik tersebut tidak dapat bertahan hidup dan akhirnya mati.

Pada stoples dengan perlakuan penyinaran lampu 50 W, dari enam ekor lalat hanya tiga ekor yang mati, sedangkan pada penyinaran lampu dengan 10 W hanya dua ekor Jangkrik yang mati. Tetapi pada stoples dengan perlakuan kontrol, tidak ada satupun Jangkrik yang mati. Pada penyinaran lampu 50 W masih tersisa tiga ekor yang dapat bertahan hidup. Hal ini mungkin disebabkan karena tiga ekor Jangkrik tersebut mempunyai kemampuan bertahan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua ekor yang mati tadi, atau bisa juga dua ekor yang bertahan hidup tadi, masih hidup tetapi organ tubuh eksterna sudah tidak efektif lagi. Hal ini bisa dilihat, dalam stoples tersebut Jangkrik tidak beraktivitas lagi (diam). Hal yang sama juga bisa terjadi pada Jangkrik dengan disinari lampu 10 W. Dimana dari enam ekor Jangkrik hanya dua ekor yang mati, sedangkan lainnya dapat bertahan hidup.

I. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

1. Faktor fisik yang penting dalam mempengaruhi kehidupan serangga adalah suhu, cahaya / sinar, hujan, kelembaban dan angin.

2. Suhu merupakan faktor lingkungan yang menentukan / mengatur aktivitas hidup serangga. Pengaruh ini jelas terlihat pada proses fisiologi serangga, yaitu bertindak sebagai faktor pembatas kemampuan hidup serangga.

3. Ada dua zona yang menyebabkan serangga dapat mati yaitu pada zona fatal atas yaitu pada suhu >48OC dan zona fatal bawah yaitu pada suhu ± 4OC.

4. Kemampuan serangga untuk bertahan hidup dalam lingkungannya (daya survival) dipengaruhi oleh : daya persepsi dan mobilitas, daya dispersi, daya kompensasi dan daya adaptasi.

5. Dari hasil pengamatan yang dapat dilihat bahwa semakin berkurang / rendah cahaya, kemampuan bertahan hidup Jangkrik semakin rendah. Kemampuan hidup dari masing – masing Jangkrik berbeda – beda, dimana kemampuan tersebut dipengaruhi oleh daya kompensasi dan daya adaptasi.

DAFTAR PUSTAKA

Subyanto. 2000. Bahan Ajar Ilmu Hama hutan. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Sumardi dan S.M. Widyastuti. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Tjahjadi, N.1989. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisius. Yogyakarta

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Mudah Penasaran!!! Cihahayyyy...!!!!!!
Copyright © 2010 Love Story And My Study All Rights Reserved.
Website powered by Blogger and Trily Blogger theme designed by TopTut.com & Converted by Ritesh Sanap.

Blog Archive

Followers

silakan meninggalkan pesan ^_^

Ada kesalahan di dalam gadget ini

bantu di klik sob..... :D